By. Rasyidin IKAPA Bandung
Secara kasat mata bahawa hasil SEMILOKA yang di adakan pada tanggal 19 April 2008 di Hotel Horizon-Bandung, menuai kesejahteraan yang paling mengutungkan bagi orang Aceh. padahal pada kenyataannya bahwa Kuntoro Cs dan Pemerintah RI mulai memberi tamparan dengan gaya baru dan sekaligus mengencingi Rakyat Aceh dengan gaya Baru.
Fakta yang wagub utarakan antara lain " bahwa pada dasarnya Masyarakat Aceh tidak perlu khawatir dengan berakhirnya BRR di Aceh, karena staf yang ada di BRR pada umumnya adalah orang yang datang dari luar Aceh" artinya “ternyata campur tangan pemerintah pusat masih sangat kuat di Aceh.
[ penulis: Yusra Habib Abdul Gani | topik: Pendidikan ]DAHULU dan juga sekarang, oleh pakar kolonialis tentang falsafah dan seni sastra dipakai sebagai barometer kadar kekentalan nasionalisme, kekuatan politik dan militer suatu bangsa. Dari gerak dan lirik seni sastra yang diluahkan oleh seseorang maupun berkelompok dalam bentuk pepatah, pantun dan puisi tentang: cinta, kritik, pujian, sindiran, membuka ´aib, patriotsme dan heroisme, terpantul mentalitas mereka.
Salam,
Saya ingin menuangkan sedikit uneg-uneg soal'kerakusan' serdadu di Aceh. Semoga tak ada yangmereka dalam ranah maya ini ya, hehehe
Ini memang sudah menjadi rahasia umum di Aceh. Setiaplahan kosong, selalu 'dirampok' kaum berseragam.Setiap tanah 'negara' misalnya, kalau hari ini kitalihat, dua pekan kemudian balik lagi, sudah adapamplet yang bunyinya kira-kira begini; "Tanah IniMilik TNI".
Politik Datang Sendiri ke Aceh
TANDA tangan komitmen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) damai ke delapan kandidat Gubernur Aceh telah dibubuhkan di atas prasasti hitam, pada 8 Nopember 2006, di pelataran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Prasasti itu merupakan bukti kesiapan calon pemimpin Aceh memainkan politik bersihnya.
Di permukaan prasasti seberat 25 kilogram itu, yang telah terpatri paraf kandidat sebagai simbol kesungguhan, tekad, pengorbanan, bahkan keikhlasannya menerima kekalahan. Apalagi kemenangan. Para konstestan berjanji siapa menang dan siap kalah, serta berpolitik secara santun dalam memenangi pertarungan menjadi yang terbaik di Aceh.