Reporter : Tim AcehKita
Aceh Utara, acehkita.com. Anggota Komite Peralihan Aceh wilayah Pasee Teuku Badruddin dilaporkan tewas setelah diberondong timah panas di Desa Pante Jaloh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Kamis (27/12) malam. Selain menewaskan Badruddin, penembakan yang dilakukan oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya itu juga ikut melukai Mahmuddin (19), dan Fitriadi (17). Keduanya masih dirawat di RS Palang Merah Indonesia Lhokseumawe. Ketiga korban ditembak di halaman rumah Teuku Badruddin.
Sementara itu sekitar satu jam setelah aksi penembakan Badruddin, di Desa Meunasah Pulo terjadi pembacokan dan penculikan terhadap Muktaruddin (35), Ule Sagoe Sawang, dan Hafid, mantan anggota GAM yang saat ini berstatus sebagai Polisi Kehutanan, serta seorang warga yang masih menghilang hingga berita ini diturunkan.
Insiden yang menimpa Bandruddin terjadi sekitar pukul 23.30 WIB. Badruddin masih berstatus tahanan di Rumah Tahanan Lhoksukon terkait kasus perampokan kendaraan milik NGO Cardi. Pada Ahad (3/6) silam Badruddin bersama istri dan seorang anaknya juga mengalami penembakan oleh lima pria bersenjata api di rumahnya di Desa Seuneuboh Baro, Kecamatan Makmur, Bireuen.
Insiden yang menyebabkan kematian Badruddin merupakan peristiwa penembakan untuk kedua kalinya terjadi terhadap mantan anggota GAM wilayah Pasee itu. Sumber acehkita.com menyebutkan, penembakan Kamis malam diduga berawal dari kedatangan sekitar 15 orang yang mengendarai sepeda motor dan mengenakan sebo.
Saat itu Badruddin tidak sendirian di rumah. Ia ditemani Mahmuddin dan Fitriadi. Saat itu Badruddin meminta Mahmuddin membeli rokok. “Badruddin bilang ke saya, kalau ada uang tolong beli rokok sebentar,” kenang Mahmuddin.
Mahmuddin menyebutkan, sekembali dari kios dan sedang menyerahkan rokok kepada korban tiba-tiba mereka dihujani peluru. “Tiba-tiba ada yang menembak kami dari arah kegelapan malam,” kata dia sembari menyebutkan, saat diberondong peluru Mahmuddin langsung tiara. “Saya sempat mendengar ada yang bilang, ‘keluar kau Badruddin’,” kisah Mahmuddin.
Panggilan itu diiringi letusan senjata yang berlangsung sekitar 15 menit. Saat itulah dirinya bersama Fitriadi dan Badruddin ditembusi peluru milik orang tak dikenal. Usai melakukan aksi, para pelaku langsung meninggalkan lokasi kejadian.
Dahlan (35), paman korban yang ditemui di RS PMI, mengatakan, setelah kejadian itu dirinya bersama warga setempat baru berhampuran keluar rumah untuk melihat kondisi korban yang terkena tembak tersebut.
Pihak Polres Kota Lhokseumawe, mengatakan korban diberondong dari jarak sekitar enam meter oleh orang tak dikenal dengan mengunakan senjata M-16. Hal ini dibuktikan dengan penemuan tiga butir selongsong peluru di sekitar lokasi kejadian di depan rumah. Selain itu polisi juga menemukan tujuh bekas tembakan di pohon dan rumah. Diperkirakan arah tembakan dilakukan dengan cara tiarap.
Juru Bicara KPA Ibrahim bin Syamsuddin menyampaikan duka kepada ketiga korban. “Dia pernah jadi tersangka polisi, tidak jelas prosesnya,” kata pria yang akrab disapa Ibrahim KBS ini, “kami mengecam peristiwa ini.”
Ibrahim KBS mengungkapkan kekecewaannya atas kejadian berdarah ini. Kata dia, seharusnya polisi bisa melindungi masyarakat.
Peristiwa Meunasah Pulo
Satu jam setelah peristiwa yang menewaskan Badruddin dan melukai dua lainnya, di Desa Meunasah Pulo, sekawanan lelaki yang mengggunakan senjata api dan parang mendatangi rumah Ule Sagoe GAM Muktaruddin (35). Sumber acehkita.com yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, Mukhtaruddin langsung melarikan diri ke rumah warga yang sedang mengadakan kenduri kematian saat melihat komplotan tersebut.
Kendati berusaha melarikan diri, komplotan itu tetap saja mengejar Mukhtaruddin yang bersembunyi di sebuah kamar di rumah tetangga itu. Namun persembunyian itu terendus dan pelaku memaksa masuk ke rumah duka tersebut serta memukuli korban dan melempar dengan kaca dan piring. “Rumah itu sempat diobrak-abrik,” kata sumber tadi.
Di tempat yang sama, masih kata sumber, para pelaku juga menangkap Hafid (25) dan Yan Pen (22). Ketiganya kemudian dibawa oleh pelaku. Baru pada pukul 11 siang kemarin, warga menemukan Mukhtaruddin dalam keadaan hidup di sebuah bukit di Desa Teupin Reusep. Sementara nasib Yan Pen hingga kini masih kabur. Hingga kini belum diketahui pelaku penculikan mereka. [dzie]