Kawasan pegunungan Babah Lhok Me, Guha Tujuh, Cot Kareueng Gla, Lhok Mamuni (Kecamatan Batee), dan Blang Rob, Blang Manthoe, serta Blang Mie (Kecamatan Muara Tiga) akan diadakan kegiatan latihan tembak menembak prajurit TNI selama 4 hari (25-29 Juni 2007), mereka telah menduduki kawasan tersebut sejak 22 Juni 2007 hingga 30 Juni 2007. Program ini merupakan, program langsung dari pihak Pangdam Iskandar Muda (IM) sebagai latihan rutin setiap tahun 2 kali di wilayah yang berbeda, angkatan kali ini terpilih di kawasan Kecamatan Muara Tiga Kabupaten Pidie.
Selama masa kegiatan itu dilakukan TNI menduduki areal perkebunan masyarakat di Blang Manthoe Kecamatan Muara Tiga Kabupaten yang terbilang di jalan Simpang Beutong-Laweueng, dan hanya terpaut 1,5 kilometer dari jalan negara (Banda Aceh-Medan).
Dalam kegiatan tersebut dilibatkan personil dari Batalyon-Batalyon Infantri (YONIF) yang ada di Aceh (organik), yaitu Batalyon Infantri 111, Batalyon Infantri 112, Batalyon Infantri 113, Batalyon Infantri 114, Batalyon Infantri 115 dan Batalyon Infantri 116. Setiap Batalyon melibatkan personilnya antara 100-120 personil, jumlah total mencapai 1000 personil dengan rinciannya 800 personil yang ikut latihan dan 200 orang sebagai pembina latihan dan para tim Provost.
Latihan yang dimaksud adalah sebagai ujicoba peluncuran senjata baru jenis Mortil Split berkaliber 60 mm dengan radius paling jarak 10 kilo meter dan paling dekat 1 kilo meter. Umumnya peserta latihan tersebut diikuti oleh para prajurit baru, yakni prajurit berpangkat Prajurit Satu (Pratu) dan Prajurit Dua (Prada). Kegiatan latihan puncak akan dilangsungkan mulai 25-29 Juni 2007 di kawasan-kawasan yang telah disebutkan di atas.
Sedangkan Batalyon Infantri 114, Batalyon Infantri 115 dan Batalyon Infantri 116 merupakan Batalyon Infantri bentukan saat Aceh dalam keadaan Darurat Militer (DM) beberapa tahun lalu plus beberapa Kompi baru seperti di Tiro, Geumpang, Cot Padang Lila (Pidie), Lampanah (Aceh Besar), Cot Batee Geulungku (Bireuen) serta di beberapa kawasan Aceh lainnya.
Kegiatan ini dilaksanakan tidak berdasarkan hasil musyawarah antara pihak TNI dengan masyarakat setempat, khususnya masyarakat petani dan peternak di kawasan yang tersebut di atas. Pihak Camat hanya disampaikan lewat tembusan surat saja, sedangkan untuk Komite Peralihan Aceh (KPA) dan GAM Sagoë Laweuëng (Kecamatan Muara Tiga) tidak diberitahukan sama sekali, sebenarnya hal ini harus adanya satu koordinasi yang konkrit antara TNI dengan masyarakat serta pihak GAM yang merupakan sebagai stakeholders dalam mewujudkan proses perdamaian di Aceh sebagaimana yang telah tercapai kesepakatan dalam MoU Helsinki.
Amaran untuk masyarakat supaya tidak melakukan aktivitas hariannya sudah diintruksikan sejak 20 Juni 2007 lewat pengumuman di meunasah-meunasah (surau). Kegiatan ini jelas mengganggu aktivitas masyarakat petani dan peternak, karena sebagian petani hampir panen cabe, dan sedang membersihkan lahan untuk penanaman pisang barangan di sekitar lokasi tersebut. Di sektor lain, masyarakat setempat juga banyak binatang-binatang piaraannya di kawasan yang sedang digunakan oleh prajurit TNI itu. Keluhan dari masyarakat terhadap kegiatan ini sangat tinggi.
Kini masayarakat Kecamatan Muara Tiga merasa sangat resah dengan adanya kegiatan TNI tersebut. Terutama sekali masayarakat Gampong (Desa) Cot, Tgk Chik Di Laweueng, Mesjid, Keupula dan Sukajaya, sebagian besar masyarakat gampong itu sebagai petani yang memiliki lahan pertanian dan perkebunannya di seputaran latihan TNI. Maka dalam hal ini masyarakat Kecamatan Muara Tiga sangat keberatan kegiatan tersebut dilakukan di areal perkebunannya.
Laweueng, 25 Juni 2007
Tertanda:
Suadi Sulaiman Laweueng
Mobile: +62 813 6012 1276